Header Ads

Tajjussalatin, terkubur dari Tradisi


Tarmizi A.Hamid bersama KH.Yakhsyallah Mansur, usai Pengajian Kwpsi di Banda Aceh

Banda Aceh - Kitab Kuno Aceh (Manuskrip) yang kaya dengan Ilmu Politik dan dikupas secara rinci pesan-pesan cara ber tata negara pada masa Kesultanan Aceh Abad 17 Masehi yaitu Tajjussalatin ( Mahkota Raja-raja) yang di karyakan oleh Bukhari Al  Johari
yang selesai ditulis pada tahun 1012 Hijrah (1603 Masehi), menjadi salah satu Kitab wajib dibaca pada saat saya masih menduduki Sekolah Menengah Atas (SMA) puluhan tahun yang silam.  Naskah yang kaya ilmu politik dan kepemimpinan ini sangat populer baik pada zamannya maupun semasa remaja saya.
Demikian antara lain disampaikan Ustaz KH Drs Yakhsyallah Mansur MA, Imam Jamaah Muslimin (HIZBULLAH) saat berbincang-bincang dengan Tarmizi A.Hamid, setelah mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke Rabu 11 Januari 2017 malam.
Naskah ini di karyakan oleh seorang ahli tata negara dan ahli firasat Bukhari al Jauhari yang selesai ditulis pada tahun 1012 Hijrah (1603 Masehi). Hasil dari guratan tinta Ulama sufi ini, Taj al-Salatin sudah mengharumkan nama Aceh ke sentero dunia disamping harumnya Bustan Al Salatin (Taman Raja-raja). Naskah yang sangat masyur ini telah memberikan konsep perpolitikan islam secara signifikan. Oleh karena itu saya sangat merindukan membaca kembali naskah ini, terima kasih Tarmizi, telah bersusah payah menyelamatkan karya leluhur Nusantara khususnya Aceh sesuatu peninggalan yang tiada tergantikan ini, ujar KH Yakhsyallah yang juga Pembina Utama Pondok Pesantren Al- Fatah, Cileungsi, Bogor ini.
Naskah Kuno Tajjussalatin ini, ada 5 pokok landasan sebagai acuan bagi seorang pimpinan yang mengupas secara detail, maka dalam sejarah orang-orang tua kita dulu di Aceh maupun di Nusantara ini, kitab Politik ini menjadi bahan bacaan wajib disekolah sekolah.
Persoalan yang dikemukakan adalah persoalan-persoalan yang hangat pada waktu itu, yaitu masalah-masalah politik dan pemerintahan. Seperti kita ketahui, Aceh pada masa tersebut sedang mengalami krisis internal, salah satunya sumber daya intelektual, yang menyebabkan Sultan Sayyid al-Mukammil dipaksa turun tahta oleh dua orang anaknya. Sisi lain, era tersebut, Aceh sedang giat-giatnya berusaha meluaskan pencaplokan wilayah penguasaannya (Anexatie)  bersama proses Islamisasi, karena beberapa negeri yang penduduknya belum beragama Islam, seperti Tanah Batak dan Karo, juga ditaklukkan.
Dalam kitabnya, Bukhari al-Jauhari berusaha menjelaskan bagaimana seharusnya raja-raja Melayu yang beragama Islam memimpin sebuah negeri yang penduduknya beragam etnik, multi-agama, multi-ras dan multi-budaya. Bukhari al-Jauhari mengemukakan sistem kenegaraan yang ideal, dan peranan seorang pemimpin yang adil dan benar.
Sedikitnya ada 5 pokok landasan sebagai acuan bagi seorang pimpinan atau syarat memilih pemimpin negeri dan daerahnya;
Pertama, Hifz; memelihara kepercayaan rakyat, menunaikan kewajiban janjinya. Hifz; juga diartikan orang memiliki ingatan yang kuat, yaitu cerdas dan cakap, itu menjadi modal dasar membangun negeri ini.
Kedua, Fahm, artinya cepat tanggap dalam semua persoalan dalam negeri dan rakyatnya.
Ketiga, Fikr; yaitu idealis, tajam pikiran dan luas wawasannya;
Keempat, Iradat; yaitu visi misi, prospek dan target. Pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat.
Dan kelima, Nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur diatas segalanya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.