Header Ads

Kampung Pande, Panggung Utama Peradaban Islam Di Asia Tenggara


Batu Nisan Kuno di Gp Pande, Abad 15.

Banda Aceh/ 11/11, Kampung Pande yang terletak di Kecamatan Kutaraja Kotamadya Banda Aceh, merupakan kawasan sangat penting peninggalan sejarah Aceh masa lalu, dan merupakan areal inti dari berbagai peristiwa sejarah, sebab berada di tepi laut dan di bagian muara atau hilir Krueng Aceh.

Ini adalah salah satu panggung utama sejarah Aceh dan telah merekam jejak-jejak sejarah yang cukup banyak. Dulu, kawasan ini termasuk dalam Mukim Masjid Raya di mana Darud Donya, Istana dan kuta para Sultan Aceh juga berada di Mukim ini.

Batu Nisan Kuno di Gp Pande, Abad 15.

Krueng Aceh sendiri, mulai dari hulu sampai hilirnya merupakan nadi kebudayaan dan peradaban orang Aceh. Dari kawasan di dua tepi Krueng Aceh, orang Aceh telah menyebar ke berbagai tempat di Asia Tenggara. Sungai atau Krueng Aceh ini harus mendapatkan penghormatan yang layak. Aliran sungai di bagian muaranya adalah jalur vital menuju ke Kuta Sultan dengan melewati Gampong Jawa. Di Gampong Jawa sendiri terdapat makam Kepala Pelabuhan atau Syahbandar Aceh zaman dahulu, dari abad ke 12 Hijriah, yang bernama Syahbandar Mu'tabar Khan. 

Maka, semua ini menunjukkan kepentingan dan nilai yang tinggi yang dimiliki kawasan ini. Karena itu saya pikir, kawasan ini sama sekali tidak layak untuk menjadi tempat buangan sampah dan limbbah apalagi lumpur tinja. Itu sama sekali tidak logis dan tidak masuk ke cita rasa. Saya rasa seluruh masyarakat Aceh akan sependapat dengan saya dalam hal ini, kata Tarmizi A.Hamid di saat berkunjung ke Kampung Pande pada Sabtu sore 11/11-2017,  sebab penempatan lokasi buang sampah dan lain-lain di pinggir Krueng Aceh yang melegenda dan juga di bekas kawasan paling penting dalam sejarah Aceh, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima baik dari segi adat dan kearifan orang Aceh, atau dari segi cita rasa keindahan, lanjut Aktivis Adat Aceh ini.

Kolektor Naskah Kuno Aceh ini mengatakan, penghentian IPAl, bahkan relokasi TPA dan IPLT, ini sudah seharusnya dilakukan oleh Pemerintah, dan ini sudah merupakan sikap yang sangat bijak. 

Baiknya, kawasan ini digunakan untuk kawasan peninggalan sejarah, yang didukung dengan berbagai sarana edukasi masyarakat dan generasi muda, seperti museum kemaritiman, perpustakaan bahkan pengajian-pengajian keagamaan, dan terutama lagi sebagai pusat kajian sejarah Aceh. Sehingga, kawasan ini juga menjadi kawasan tujuan wisata yang mengesankan, dan tidak menjadi kawasan wisata tutup mulut dan hidung oleh karena bau busuknya biologis manusia dan pusat sampah itu. Perlu diingat sekali lagi,  ini adalah kawasan utama dari kota Islam, Bandar Aceh Darussalam.








Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.