Header Ads

KATA PENGANTAR

Oleh ; Tarmizi Abdul Hamid

Bandar Khalifah, sebuah nama yang sangat indah dan punya makna yang mendalam yang ditabalkan oleh sejarawan untuk Perlak atau Ibu Kota Aceh Timur sekarang ini.
Bandar Khalifah ini dibangun pada tahun 225-249 H (840-864 M)
Berbicara Adat Aceh, sama seperti kita berbicara Islam, bicara islam dalam pandangan masyarakat Aceh, bicara perjuangan, perjuangan Agama yang telah dilakukan oleh leluhur kita pada masa lalu, yang hari ini kita sebagai pewarisnya berkewajiban melestarikan dan menjungjung tinggi tanpa batas. Adat suatu warisan yang telah dititipkan kehadapan kita pada era modern ini, patut kita syukuri atas perjuangan Indatu kita pada era Kesultanan Aceh masa lalu, atas dasar inilah sebuah tongkat estafet yang telah dititipkan kepada kita untuk kita teruskan kepada generasi Aceh yang kita cintai ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Judul diatas adalah ; salah satu bentuk pengabdian kita dan tanggung jawab kita semua, agar kehidupan kemasyarakatan selalu Damai dan tentram dalam masyarakat Aceh melalui pembangunan Adat.
Pentingnya strategi Pengembangan Gampong Percontohan Adat dewasa ini,sebagai suatu realitas kekuatan Islam, karena adat Aceh adalah bersesuaian dengan syari'at nya, Jika Islam ini tidak kita beri bekas dalam Adat, hanya sebatas syariat yang kita harapkan untuk menuju kematian, maka agama itu tidak akan bersinar di dada insan.
Adat di Aceh keunggulannya ada pada Islam yang hadir melalui Nabi kita telah menjadi rahmat bagi segenap alam dan bangsanya, Ini berarti segala sesuatu yang mendapat sentuhan Islam akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan didunia dan akhirat.
Atas perinsip itulah ulama-ulama besar kita mulai dari Hamzah Al Fansyuri, Nurdin Ar RaniryA, Samsudin al Sumaterany, Tun Sri Lanang, Abdurrauf as singkili sampai kepada kita sekarang  telah memberikan nafas Islam kepada tata cara adat istiadat Aceh. Adat dan Budaya Aceh itu sangat berbahaya jika tidak mendapat sentuhan Islam. Sebab agama-agama primitif sampai agama majusi, hindu dan konghucu, semuanya ujud ajarannya dalam bentuk adat, budaya dan teks sastranya.
Bertolak dari situ, Aceh memandang kehidupan Adat Aceh sebagai  yang punya kesadaran tinggi  betapa  pentingnya meneruskan tradisi adat istiadat yang Islami, yang ternyata Aceh merupakan  satu di antara gudangnya yang ditinggalkan pada era ke emasan dan peradaban Aceh diseantero Asia Tenggara.
Adat bahagian dari kebudayaan nya, hanya akan bisa unggul  jika kadar  Islam yang menjadi  muatan lokal dilestarikan secara alih generasi, di samping di lanjutkan dengan kegiatan-kegiatan (sosialisasi) adat istiadat sebagai bentuk yang makin mampu menjawab tantangan zaman. Atas kesadaran ini, maka Adat Aceh populer dengan hadih maja ; Adat ngon hukom (agama) lagee' zat ngon sipheut.
Masyarakat Gampong Yang Orisinil, tentu banyak hal dan karakter sosial yang menjadi sebab musabab dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu dengan adanya pelatihan (sosialisasi) dan materi tentang Pembinaan Gampong Percontohan Adat, kiranya masyarakat adat di gampong dengan pelan-pelan dapat memahami proses tersebut.  Pembinaan Adat di Gampong meliputi pembinaan tokoh-tokoh adat baik Gampong maupun Mukim, fungsi Lembaga Adat yang ada di Gampong maupun Mukim, setelah beberapa dekade selama ini Majelis Adat Aceh secara terus menerus memberi perhatian khusus kepada permasalahan dan perkara di Gampong melalui Pelatihan Peradilan Adat. (TAH)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.